Kuliah Analisis Real

Mata Kuliah untuk meningkatkan kemampuan analisis khususnya yang berkaitan dengan bilangan Real (nyata).

Kuliah Persamaan Differensial

Mata Kuliah untuk menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan Persamaan Diferensial.

Kuliah Teori Bilangan

Mata Kuliah untuk pengembangan pengetahuan tentang bilangan khususnya yang berkaitan dengan Bilangan Bulat.

Dunia Komputer

Pengetahuan tentang Dunia Komputer disertai Trik dan Service.

Dunia Pendidikan

Pendidikan Dasar, Menengah dan Perguruan Tinggi serta Teori-teori Kependidikan.

Selasa, 03 Januari 2012

Bagaimana mengembangkan pembelajaran berbasis komputer dan TIK di sekolah bertaraf international

Abstrak
Salah satu amanat undang-undang yang menekankan pada penyelenggaraan sekolah bertaraf internasional telah memberikan kesempatan kepada setiap daerah untuk ikut serta dalam pengembangan pendidikan dalah ranah internasional. Upaya tersebut tidak serta merta dilakukan oleh pihak sekolah saja, akan tetapi peran serta pemerintah dan masyarakat juga sangat diperlukan guna menunjang pelaksanaannya.
Dalam pelaksanaan sekolah bertaraf internasional tersebut khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran sangat ditekankan untuk menggunakan pembelajaran berbasis TIK (Teknologi Informasi Dan Komunikasi). Dalam penggunaan TIK tersebut tentu tidak lepas dari peran serta komputer sebagai salah satu media yang dapat dimanfaatkan oleh guru sesuai tuntutan undang-undang.
Komputer tidak hanya dapat digunakan sebagai alat dikantor saja, akan tetapi komputer saat ini sudah banyak dimanfaatkan dalam dunia pendidikan terlebih dengan adanya sistem komunikasi jarak jauh yang melibatkan jaringan komputer seperti internet. Sistem komunikasi seperti internet tersebut sudah banyak dimanfaatkan dalam proses pembelajaran baik saat dikelas maupun sebagai upaya untuk mengupayakan pembelajaran mandiri bagi siswa.
Pengembangan penggunaan TIK atau dalam istilah inggris disebut sebagai ICT (information comunication and teknologi) dapat dilakukan dengan menggunakan pembelajaran berbasis komputer, multimedia interaktif, pembelajaran berbasis web dan lain sebagainya. Pengembangan tersebut tidak hanya berlaku untuk mata pelajaran komputer saja, akan tetapi berlaku untuk semua mata pelajaran sesuai dengan tuntutan undang-undang.

  1. A.    Pendahuluan

Pada tahun 90-an banyak sekolah-sekolah yang didirikan oleh suatu yayasan dengan menggunakan identitas internasional, akan tetapi tidak jelas kualitasnya. Hal tersebut merupakan salah satu hal yang melatar belakngi program sekolah bertaraf internasional yang dikembangkan di indonesia saat ini. Perlunya membangun sekolah berkualitas sebagai pusat unggulan (center of exelence) pendidikan juga merupakan salah satu hal yang melatar belakangi pengembangan SBI.Sistem Pendidikan
Undang-undang nomor 20 tahun 2003 (sistem pendidikan Nasional) pasal 50 ayat 3 menyebutkan :“Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurangkurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional”. Undang-undang tersebut telah memberikan kesempatan kepada setiap daerah untuk mengembangkan pendidikan bertaraf nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan indonesia dalam kancah internasional.
Pelaksanaan undang-undang di atas dituangkan dalam 8 standar nasional pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. Salah satu standar dari 8 standar pendidikan nasional tersebut adalah standar proses. Standar proses untuk sekolah bertaraf internasional mengatur bagaimana pengembangan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi lulusan yang sesuai dengan negara manju (internasional).
Salah satu bagian dari pengembangan proses pembelajaran tersebut adalah pembelajaran berbasis TIK (Teknologi informasi dan komunikasi). Kriteria pembelajaran berbasis TIK tersebut tidak hanya berlaku untuk beberapa mata pelajaran saja, akan tetapi berlaku untuk semua mata pelajaran. Pengembangan pembelajaran berbasis TIK ini sangat ditekankan dalam mengembangkan sekolah bertaraf internasinal baik dengan penggunaan komputer, interner maupun media-media teknologi dan komunikasi yang lain.
Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini, memberikan peluang baru kepada dunia pendidikan untuk mengembangkan model-model pembelajaran baru untuk menutupi kelemahan-kelemahan yang muncul dari pelaksanaan pembelajaran tatap muka.  Dari sisi proses, TIK dapat menutup kelemahan keterbatasan ruang dan waktu, sedangkan dari sisi konten, TIK menawarkan pemahaman konten yang lebih mudah dicerna peserta didik.   Misalnya, bentuk kompleks suatu pengetahuan, dapat disederhanakan dengan simulasi TIK, bentuk-bentuk jasad  renik dapat dibesarkan menggunakan TIK sehingga mudah dilihat, bentuk-bentuk besar dapat dikecilkan dengan TIK sehingga dapat dibawa di depan peserta didik, dan aktivitas yang berbahaya dapat disajikan dengan TIK sehingga tidak membahayakan.
Pembelajaran matematika akan sangat terbantu dengan pembelajaran berbasis TIK tersebut karena visualisasi dari sifat abstrak matematika akan lebih tinggi selain itu kemudahan dalam membangun kemampuan siswa akan lebih mudah karena dalam setiap pembelajaran diikuti dengan penggunaan teknologi yang saat ini sudah berkembang dengan pesat seperti penggunaan animasi dan lain sebaginya.
  1. B.     Pembahasan

1.      Pengertian pembelajaran matematika berbasis TIK
Pembelajaran berbasis TIK adalah upaya memanfaatkan kemajuan TIK untuk mendukung proses pembelajaran. TIK berperan sebagai alat bantu bukan sebagai subyek utama. Dalam pembelajaran berbasis TIK, TIK berperan sebagai media penghubung untuk menyampaikan transfer ilmu pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik. Terdapat dua unsur penting dari proses transfer ilmu pengetahuan tersebut yaitu unsur media dan pesan yang disampaikan melalui media tersebut.
Unsur media menggambarkan TIK sebagai jaringan infrastruktur yang menghubungkan pendidik dengan peserta didik, sedangkan unsur pesan menggambarkan konten pembelajaran digital.
Pembelajaran berbasis TIK, tidak menghilangkan konteks awal pembelajaran yang berlangsung secara tatap muka di dalam ruang kelas melainkan melalui beberapa tahapan evolusi sesuai kondisi sekolah. Pada sekolah yang baru merintis pembelajaran berbasis TIK, pembelajaran digambarkan sebagai proses tatap muka di dalam kelas dengan konten digital sebagai suplemen. Pada tahap ini guru sebagai penyampai materi. Konten digital yang disampaikan hanya bersifat tambahan sehingga tidak wajib disampaikan. Proses pembelajaran dibatasi oleh ruang dan waktu.
Pada tingkat yang lebih tinggi, pembelajaran berbasis TIK digambarkan sebagai proses pembelajaran tatap muka di dalam kelas dengan konten digital sebagai komplemen. Pada kondisi ini guru masih sebagai penyampai materi. Beberapa konten digital wajib disampaikan karena masuk ke dalam struktur kurikulum, sedangkan proses pembelajaran masih dibatasi ruang dan waktu.
2.      Komputer sebagai salah satu media pengembangan berbasis TIK
Komputer yang merupakan salah satu hasil dari perkembangan teknologi sudah mulai dikenal sejak abad 19. Pada awalnya komputer diciptakan dengan tujuan untuk menciptakan mesin perhitungan yang otomatis (Sharp, 1996). Edwar Humby dalam bukunya yang berjudul “Computers” mendefinisikan komputer sebagai “an electronic machine that processes data under the control of stored programs“. Komputer adalah alat elektronit yang dapat mengelolah data dengan perantaraan program dan dapat memberikan/menampilkan hasil pengolahannya (Suryanto dan Rusmali, 1985). Sedangkan dalam buku yang berjudul “Computer Annual” mendefinisikan komputer adalah suatu alat elektronik yang mampu melakukan beberapa tugas, yaitu menerima (masukan), memproses input tersebut sesuai dengan programnya, menyimpan perintah-perintah dan hasil pengolahannya, serta menyediakan output (keluaran) dalam bentuk informasi (Sanusi, 1997).
Dalam dunia pendidikan, komputer memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajara, khususnya dalam pembelajaran matematika. Banyak hal abstrak atau imajinatif yang sulit dipikirkan siswa dapat dipresentasikan melalui simulasi komputer. Hal ini tentu saja akan lebih menyederhanakan jalan pikir siswa dalam memahami matematika. Dengan demikian proses pembelajaran matematika dapat dilakukan guru dengan memberdayakan komputer. Latihan dan percobaan-percobaan eksplorasi matematik dapat dilakukan siswa dengan komputer. Selain itu program-program sederhana yang dapat dipelajari siswa dapat digunakan dalam penanaman dan penguatan konsep, membuat pemodelan matematika dan menyusun strategi dalam memecahkan masalah
3.      Mengembangkan pembelajaran matematika berbasis TIK
Dalam bukunya bertajuk Effective TeachingEvidence and Practice, Daniel Muijs dan David Reynolds menjelaskan beberapa hal tentang kecakapan ICT. Bagaimana ICT dapat membantu siswa belajar? Hal tersebut dijelaskan sebagai berikut :
Pertamapresenting information. ICT memiliki kemampuan yang sangat luar biasa untuk menyampaikan informasi. Ensiklopedia yang jumlahnya beberapa jilid pun dapat disimpan di hard disk. Bahkan kini telah lahir google0earth yang dapat menunjukkan kepada kita seluruh kawasan di muka bumi kita ini dari hasil foto udara yang amat mengesankan. Dengan membuka www.google.com, data dan informasi akan dengan mudah kita peroleh. Mau membuat grafik dan tabel? Itu sangatlah mudah. Komputer akan dengan senang hati membantu peserta didik untuk membuatkan grafik dan tabel secara otomatis, dengan hanya memasukkan data sesuai dengan yang kita inginkan.
Keduaquick and automatic completion of routine tasks. Tugas-tugas rutin kita dapat diselesaikan dengan menggunakan bantuan komputer dengan cepat dan otomatis. Mau membuat grafik, membuat paparan yang beranimasi, dan sebainya, dengan mudah dapat dilakukan dengan bantuan komputer.
Ketigaassessing and handling information. Dengan komputer yang dihubungkan dengan intenet, kita dapat dengan mudah memperoleh dan mengirimkan informasi dengan mudah dan cepat. Melalui jaringan internet, kita dapat memiliki website yang menjangkau ujung dunia mana pun. Jangan heran, anak-anak kita dapat dengan mudah melakukan cheating atau ngobrol dengan temannya yang berada entah di belahan dunia mana.
Masih banyak lagi manfaat yang dapat kita ambil dari penggunaan ICT dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, kemampuan dalam bidang teknologi informasi haruslah dikuasai sebaik mungkin oleh generasi muda kita melalui pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi
Aplikasi komputer dalam bidang pembelajaran memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara individual (individual learning). Pemakai komputer atau user dapat melakukan interaksi langsung dengan sumber informasi. Perkembangan teknologi komputer jaringan (computer network/Internert) saat ini telah memungkinkan pemakainya melakukan interaksi dalam memperoleh pengetahuan dan informasi yang diinginkan. Berbagai bentuk interaksi pembelajaran dapat berlangsung dengan tersedianya medium komputer. Beberapa lembaga pendidikan jarak jauh di sejumlah negara yang telah maju memanfaatkan medium ini sebagai sarana interaksi. Pemanfaatan ini didasarkan pada kemampuan yang dimiliki oleh komputer dalam memberikan umpan balik (feedback) yang segera kepada pemakainya. Contoh penggunaan internet ini adalah digunakan oleh Universitas terbuka dalam penyelenggaraan Universitas Terbuka Jarak Jauh disamping siswa mendapat modul untuk proses belajar mengajar dia juga dapat mengakses informasi melalui internet.
Terdapat beberapa bentuk interaksi pembelajaran berbasis komputer (PBK), yaitu bentuk latihan dan praktek (drill and pratice), tutorial, permaianan (game), simulasi (simulation), penemuan interaktif, presentasi atau demonstrasi, komunikasi tes, sumber informasi, dan pemecahan masalah (problem solving). (Kusumah, 2006:398).
Dalam kegiatan latihan, komputer memberikan soal-soal mengenai suatu topik untuk dipecahkan oleh peserta didik dan komputer memberikan umpan balik berdasarkan respon peserta didik tersebut. Kegiatan tutorial dimaksudkan untuk mengajarkan informasi baru mengenai suatu topik pelajaran. Permainan dapat berfungsi sebagai penyaji bahan pelajaran baru atau juga sebagai penguat terhadap pelajaran yang telah diperoleh peserta didik melalui kegiatan lain. Dalam simulasi atau permodelan, komputer menyediakan simulasi atau model suatu konsep atau kejadian untuk diberi masukan oleh peserta didik dan komputer akan memberi respon terhadap masukan tersebut sebagaimana sistem yang sesungguhnya akan bertindak.
Pola tutorial interaktif diwujudkan dalam bentuk menampilkan suatu materi melalui komputer sebagai alat untuk mengetahui penguasaan dan pemahaman peserta didik dalam topik tertentu, memberi penguatan terhadap respon peserta didik yang tepat, mendiagnosa kekeliruan, menyediakan pilihan bagi peserta diidk dengan bakat yang berlainan. Peserta didik dilatih berpikir melalui pemberian stimulus pertanyaan yang membuat peserta didik berkonsentrasi pada materi yang disajikan.
Pola tutorial dalam bentuk bahan ajar interaktif disusun secara sistematis peserta didik memahami konsep melalui teks, hiperteks dan hipermedia. Melalui hiperteks, tulisan dan materi disajikan dalam bentuk animasi secara non-linear sehingga akan kelihatan lebih hidup dan bervariasi. Hipermedia menggunkan beragam jenis media yang terhubung dalam suatu sistem yang membolehkan penggunanya untuk menggunkan berbagai media lainnya secara non-linear. Hanya saja model tutorial harus memperhatikan tingkat kesulitan materi (difficulty level), materi prasyarat (prerequisite) dan keterbatasan materi (readability). (Kusumah, 2006:399).
Eisenberg dalam Sugilar (1996) mengajukan karakteristik PBK, yaitu: (1) Peserta didik dimungkinkan untuk belajar kapan saja; (2) Peserta didik tak dapat melanjutkan belajar tanpa permasalahan yang menyeluruh pada materi yang dipelajari; (3) Terdapat respon yang segera terhadap setiap pertanyaan yang diberikan peserta didik; (4) Jika peserta didik menjawab salah dan memalukan maka tak ada orang lain yang tahu; dan (5) Memungkinkan setiap peserta didik berperan serta dalam proses belajar, dan tak ada kemungkinan pelajaran di dominasi oleh segelintir orang.
Manfaat pembelajaran berbasis komputer: (1) Meningkatkan interaksi peserta didik dalam pembelajaran melalui pengelolaan tanggapan peserta didik dan umpan balik berdasarkan tanggapan tersebut; (2) Individualisasi belajar yang memperhatikan kemampuan awal dan kecepatan belajar peserta didik; (3) Efektivitas biaya karena dapat direproduksi dan disebarkan dengan biaya rendah; (4) Meningkatkan motivasi belajar karena peserta didik dapat mengendalikan pembelajaran dan mendapat umpan balik yang segera; (5) Kemudahan untuk mencatat kemajuan peserta didik dalam menguasai materi yang diberikan; dan (6) Terjaminnya keutuhan pelajaran karena hanya topik yang perlu saja yang dituangkan dalam program komputer, sedangkan topik yang tidak relevan secara sengaja tidak disajikan. (Hannafin dan Peck, 1988 dalam Sugilar, 1996).
Kendala penerapan PBK diantaranya adalah: (1) Sangat bergantung pada kemampuan membaca dan keterampilan visual peserta didik; (2) Membutuhkan tambahan keterampilan pengembangan di luar keterampilan yang dibutuhkan untuk pengembangan pembelajaran yang lama; (3) Memerlukan waktu pengembangan yang lama; (4) Kemungkinan peserta didik untuk belajar secara tak sengaja (intidental learning) menjadi terbatas; dan (5) Hanya bertindak berdasarkan masukan yang telah terprogram sebelumnya, tidak dapat bertindak secara spontan. 
Kendala-kendala tersebut dapat diminimalkan dengan: (1) Menggabungkan PBK dengan peralatan lain seperti video disc dan audio disc sehingga tidak terlalu bergantung pada tampilan layar computer; (2) Memilih paket PBK yang sudah dikembangkan pihak lain untuk menghindari lamanya waktu dan keterampilan mengembangkan PBK sendiri, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran dan karakteristik pembelajaran peserta didik; dan (3) Menempatkan PBK sebagai tambahan dalam kegiatan belajar yang melibatkan tutor dan bahan yang tercetak. (Hannafin & Peck, 1988 dalam Sugilar, 1996)
  1. C.    Penutup

Pembelajaran berbasis TIK adalah upaya memanfaatkan kemajuan TIK untuk mendukung proses pembelajaran. TIK berperan sebagai alat bantu bukan sebagai subyek utama. Dalam pembelajaran berbasis TIK, TIK berperan sebagai media penghubung untuk menyampaikan transfer ilmu pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik. Terdapat dua unsur penting dari proses transfer ilmu pengetahuan tersebut yaitu unsur media dan pesan yang disampaikan melalui media tersebut.
Dalam dunia pendidikan, komputer memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajara, khususnya dalam pembelajaran matematika. Banyak hal abstrak atau imajinatif yang sulit dipikirkan siswa dapat dipresentasikan melalui simulasi komputer. Aplikasi komputer dalam bidang pembelajaran memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara individual (individual learning). Pemakai komputer atau user dapat melakukan interaksi langsung dengan sumber informasi. Perkembangan teknologi komputer jaringan (computer network/Internert) saat ini telah memungkinkan pemakainya melakukan interaksi dalam memperoleh pengetahuan dan informasi yang diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA

Kusumah, Yaya S. 2006. Studi Tentang Penerapan Model Pembelajaran Matematika Berbasis Komputer Tipe Interaksi Tutorial Dalam Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Dan Kreatif Siswa (Makalah) dalam Prosiding Konferensi Matematika XIII. Semarang: Jurusan Matematika FMIPA Unnes bekerjasama dengan Badan penerbit Universitas Diponegoro. 

Sanusi. U 1997. Buku Pelajaran Komputer Untuk SMK Tingkat I. Jakarta: Erlangga

Sharp. V. 1996. Computer Educational for Teacher. Dubuque (USA): Times Mirror Higher Education Group Inc

Sugilar. 1996. Hubungan literasi komputer dengan sikap terhadap pembelajaran berbantuan komputer (tesis). PPS - IKIP Jakarta. 

Suyitno, Amin, dkk. 1997. Dasar dan Proses Pembelajaran Matematika. Semarang: FMIPA Unnes.

Yaniawati, R. Poppy. 2000. Penerapan E-Learning Dalam Pembelajaran Matematika Yang Berbasis 

Senin, 21 November 2011

Ciri-ciri Motivasi

Sardiman (2009:83) menjelaskan ciri-ciri motivasi pada diri seseorang :
  1. 1.      Tekun menghadapi tugas
  2. 2.  Ulet dalam menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa) tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin
  3. 3.      Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah
  4. 4.      Lebih senang bekerja mandiri
  5. 5.      Cepat bosan pada tugas-tugas rutin
  6. 6.      Dapat mempertahankan pendapat
  7. 7.      Tidak mudah melepaskan hasil yang diyakini
  8. 8.      Senang mencari dan memecahkan masalah soal

Ia juga menambahkan bahwa cara yang bisa dilakukan guru untuk menumbuhkan motivasi disekolah adalah :
  1. 1.      Memberi angka
  2. 2.      Hadiah
  3. 3.      Persaingan/kompetisi
  4. 4.      Ego/involtment
  5. 5.      Memberi ulangan
  6. 6.      Mengetahui hasil
  7. 7.      Pujian
  8. 8.      Hukuman
  9. 9.      Hasrat untuk belajar
  10. 10.  Minat
  11. 11.  Tujuan yang diakui

Sardiman (2009:95)
Sumber :
Sardiman, 2009, Interaksi dan Motivasi belajar mengajar, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Jumat, 18 November 2011

Analisis Perbedaan KBK dan KTSP

KBK merupakan kurikulum pendidikan di indonesia yang lahir untuk mengganti kurikulum 1994. KBK ini lahir atas dasar pengembangan kompetensi sesuai dengan potensi daerah dimana yang tadinya seluruh aspek dalam kurikulum di setiap lembaga pendidikan diatur oleh pusat maka dengan adanya KBK memberikan kesempatan kepada daerah untuk mengembangkan potensinya sendiri. Perubahan ini sering disebut kebijakan yang bersifat sentralistik menuju disentralistik. Seiring berjalannya waktu belum sampai 5 tahun implementasi dari KBK, pada tahun 2006 menteri pendidikan nasional indonesia mengumumkan lahirnya kurikulum baru yang bernama KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan). Kurikulum ini lahir atas dasar UU no 20 tahun 2003, sisdiknas PP no 19 tahun 2005, pemdiknas no 22 tahun 2006 tentang standar isi dan pemdiknas no 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan. KTSP lahir bukan menggantikan KBK secara utuh akan tetapi merevisi beberapa unsur KBK yang kurang lengkap menurut para ahli pendidikan.
Berikut beberapa perbedaan yang ada pada KBK dan KTSP :
1.     KBK lahir untuk mengganti kurikulum 1994 yang bersifat sentralistik, sehingga seharusnya KBK bersifat desentralistik. Akan tetapi pada praktiknya ternyata KBK masih bersifat sentralistik. Hal ini dibuktikan dengan kurikulum yang dibuat oleh pusat kemudian sekolah hanya melaksanakannya. Berbeda dengan KTSP yang bersifat desentralistik dimana pusat hanya memberikan kerangkanya saja kemudian sekolah yang mengembangkan lebih lanjut. yang menyusun kerangka kurikulum itupun dilaksanakan oleh tim BNSP (badan nasional standar pendidikan).
2.    Pada KBK terdapat banyak perubahan nama mata pelajaran dan tidak ada mata pelajaran pengembangan diri sedangkan pada KTSP beberapa mata pelajaran juga mengalami perubahan nama dan terdapat mata pelajaran mulok dan pengembangan diri yang perencanaan dan pelaksanaannya diatur oleh sekolah.
3.    Pada KBK semua sekolah dituntut untuk melaksanakannya dan hanya beberapa sekolah yang mampu yang menyusunnya. Sedangkan pada KTSP semua sekolah wajib membuat KTSP dan melaksanakannya.
4.    Pada KBK standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator sudah tersedia, guru tinggal melaksanakannya sedangkan pada KTSP pusat hanya menyediakan standar kompetensi dan kompetensi dasar, indikator dikembangkan oleh guru dimasing-masing sekolah.
Sumber :

Analisis SNP untuk menemukan Metode/pendekatan dalam pembelajaran

A.    Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan Pembelajaran
Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (permen no 19 tahun 2005 tentang SNP). SNP merupakan landasan dalam pelaksanaan pendidikan di indonesia baik yang formal maupun imformal. Dalam pelaksanaannya SNP terdiri dari bebepara lingkup yang kesemuanya sudah terangkum dalam permen nomor 19 tahun 2005 tersebut. Lingkup SNP tersebut adalah :
1.              Standar isi;
2.              Standar proses;
3.              Standar kompetensi lulusan;
4.              Standar pendidik dan tenaga kependidikan;
5.              Standar sarana dan prasarana;
6.              Standar pengelolaan;
7.              Standar pembiayaan;dan
8.              Standar penilaian pendidikan.
Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran, SNP tersebut sudah memberikan kriteria pembelajaran yang diinginkan dan diharapkan yaitu dalam standar proses. Dalam standar proses yang tertuang dalam permen no 19 tahun 2005 disebutkan bahwa “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”. Kriteria yang dituntut SNP tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :

1.      Pembelajaran interaktif
2.      Pembelajaran inspiratif
3.      Pembelajaran menyenangkan
4.      Pembelajaran menantang
5.      Pembelajaran partisipatif dan aktif
6.      Pembelajaran kreatif
7.      Pembelajaran kemandirian
Dari kriteria-kriteria tersebut, maka dibutuhkan metode/pendekatan yang tepat dan sesuai dengan kriteria di atas dan harus benar-benar mampu mencapai ketujuh kriteria yang dituntut SNP tersebut.
B.     Pengertian Pendekatan, Model dan Metode Pembelajaran
1.      Pengertian Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan rencana yang sistematis untuk menyampaikan informasi (Garlach dan Elly, 80:14). Metode dapat juga diartikan sebagai cara yang telah terpola tetap untuk memperoleh pengetahuan. Karenanya suatu metode bersifat prosedural, teknis dan implementatif. Beberapa metode yang sering digunakan dalam pembelajaran adalah : ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, eksperimen, laboratorium, penemuan, (discovery atau inquiri), investigasi, eksplorasi, pemecahan masalah, permainan, matematika di luar kelas, pemberian tugas (drill atau latihan), bermain peran, dan pembelajaran kooperatif.
2.      Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

3.      Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menggambarkan prosodural yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar bagi para siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Diantara model-model pembelajaran yang sering diterapkan adalah : model pembelajaran langsung, model pembelajaran pemecahan masalah, model pembelajaran penemuan, model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran kontekstual atau realistik dan lain sebagainya.
C.    Metode Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Solving) sebagai salah satu metode pembelajaran yang dituntut SNP
Salah satu tuntutan SNP dalam pembelajaran adalah pembelajaran yang  menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif. Siswa dituntut untuk dapat menggunakan kemampuan berfikir dan bernalar sehingga pembelajaran tersebut menantang bagi siswa dan siswa secara tidak langsung akan ikut berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menncapai hal tersebut adalah dengan metode pembelajaran berbasis masalah.
Pemecahan masalah adalah suatu usaha yang kompleks yang melibatkan konten matematika, strategi, proses berfikir dan penalaran, disposisi, keyakinan dan lain sebagainya (Bharath Sriraman & Lyn English, Theories of Mathematics Education,2010). Menurut polya (1957) solusi soal pemecahan masalah memuat empat langkah fase penyelesaian yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah sesuai rencana dan melakukan pengecekan kembali terhdap semua langkah yang telah diberikan. Berikut langkah-langkah metode pembelajaran berbasis masalah yang dikutip dari modul matematika SMP pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan (PPPPTK) :
a.       Memahami masalah
Pada langkah ini para pemecah masalah (siswa atau guru) harus dapat menentukan dengan jeli apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan dengan mencatat hal-hal yang penting dan membuat tabel atau sketsa masalah yang dapat mempermudah mendapatkan gambaran umum penyelesaiannya.
b.      Merancang model matematika
Pada langkah ini para pemecah  masalah (siswa atau guru) harus dapat mengaitkan masalah yang ada menjadi masalah dalam pembelajaran. Misalnya dalam pembelajaran matematika, masalah yang ditemukan dibuat kedalam model matematika berbentuk persamaan atau pertidaksamaan atau lainnya. Hal ini sering dinamakan dengan istilan pemodelan (modelling)
c.       Menyelesaikan model
Dalam tahap ini siswa menyelesaikan masalah yang sudah dibuat menjadi model tadi sesuai dengan langkah-langkah yang ada pada penyelesaian model sesuai pemebelajaran. Misalnya masalah yang dimodelkan dengan persamaan linier satu variabel diselesaikan dengan metode penyelesaian persamaan linier satu variabel.
d.      Menafsirkan solusi
Setelah ditemukan penyelesaian terhadap model yang tadi maka langkah terakhir adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan penafsiran solusi dari langkah-langkah penyelesaian masalah tersebut sesuai dengan apa yang sudah mereka kerjakan.
D.    Metode Pembelajaran Berbasis Masalah Kaitannya Dengan Teori Belajar Behaviorisme Dan Konstruktivisme
Terdapat perbedaan pendapat terkait dengan hakikat dari belajar. Ada yang mengatakan bahwa belajar adalah proses transfer ilmu dari seorang yang lebih ahli (guru) kepada orang yang kurang ahli (siswa). Sehingga secara tidak langsung siswa dianggap sebagai seseorang yang kosong akan pengetahuan sehingga guru hanya mentransfer pengetahuan yang ada pada guru. Pendapat ini dibantah dengan mengataan bahwa belajar adalah proses membangun (konstruk) pengetahuan yang dimiliki siswa.
Dalam perkembangannya muncul beberapa teori belajar yang memiliki pendapat yang berbeda tentang belajar tersebut diantaranya adalah behaviorisme dan konstruktivisme.
Thornike, salah seorang penganut paham behavioristik, menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang sisebut stimulus (S) dengan respon ® yang diberikan atas stimulus tersebut. Menurut aliran behavioristik, belajar pada hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap panca indra dengan kecemderungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respons (R-S). belajar adalah upaya untuk membentuk hubungan stimulus dan respons sebanyak-banyaknya.
Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Konstruktivisme adalah integrasi prinsip yang diekplorasi melalui teori chaos, network, dan teori kekompleksitas dan organisasi diri. Belajar adalah proses yang terjadi dalam lingkungan samar-samar dari peningkatan elemenelemen inti- tidak seluruhnya dikontrol oleh individu.
Metode pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dalam pembelajaran siswa ditutut untuk berpaartisipasi aktif dalam menemukan masalah, membuat model, menyelesaikan dan menafsirkan masalah tersebut. Dalam metode pembelajaran berbasis masalah terdapat pemberian stimulus berupa masalah dan adanya respon dari siswa berupa pembuatan model dan penyelesaian dari masalah tersebut. Hal ini berkaitan dengan teori belajar behaviorisme yang menekankan pada pemberian stimulus dan respon. Dalam penerapan metode pembelajaran berbasis masalah tersebut diharapkan terjadi perubahan tingkah laku dari siswa dimana yang tadinya siswa kurang aktif, setelah dilakukan proses pembelajaran berbasis masalah maka siswa akan menjadi aktif dan bisa memahami bagaimana menyelesaikan sebuah masalah.
Kaitannya dengan teori belajar konstruktivisme, metode pembelajaran berbasis masalah menekankan pada pembentukan pengetahuan siswa yang tadinya siswa memiliki pemahaman yang masih kacau maka dengan penerapan metode pembelajaran berbasis masalah tersebut, pembentukan struktur kognitif siswa dan interaksi dengan lingkungan akan tercipta. Dalam proses pembelajaran tersebut pengetahuan tidak hanya didapat dari guru saja akan tetapi dari pengetahuan yang dimilki siswa itu sendiri dan lingkungan.
Sumber :
Peraturan Mentri No 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan

Shadiq, Fadjar, 2009, Modul Matematika SMP program bermutu : Model-model pembelajaran Matematika SMP, Yogyakarta :PPPPTK-Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidikan Dan Tenaga Kependidikan , 2009

Erman suherman dkk, 2001, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, Bandung : JICA-Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Sriraman, Bharath dan English, Lyn, 2010, Theories of Mathematics Education, London : Springer Heidelberg Dordrecht

ANALISIS PROBLEM SOLVING DAN CTL (CONTEXTUAL TEACHING LEARNIG)

A.    Pendahuluan
Menurut Mutadi (Griffith dan Clyne, 1994, h. 17) pengajaran matematika selama ini cenderung dikembangkan melalui pola pengajaran teori – contoh – latihan. Sehingga pembelajaran terkesan hanya menyajikan suatu pandangan yang sempit tentang matematika, padahal proses pembelajaran harus memungkinkan murid untuk mengkonstruksi pemahaman mereka sendiri tentang matematika secara mendalam yang didasarkan pada apa yang telah mereka ketahui.
Oleh karena itu supaya siswa mampu mengkonstruksi pemahaman sendiri diperlukan suatu metode atau pendekatan yang mampu menjembatani siswa untuk berfikir aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Beberapa  metode atau pendekatan yang bisa dipakai adalah Problem Solving (Pemecahan Masalah) dan CTL (Contextual Teaching and Learning)

B.     Problem Solving dan CTL
1.      Problem Solving
a)          Pengertian Problem Solving
Menurut Wono Setia Budi dalam Eri mengatakan bahwa pemecahan masalah (problem solving) merupakan latihan bagi siswa untuk berhadapan dengan sesuatu  yang tidak rutin dan kemudian mencoba menyelesaikannya. Diperkuat oleh Nasution bahwa pemecahan masalah adalah metode belajar yang mengharuskan pelajar menemukan jawabannya sendiri tanpa bantuan khusus.
b)        Langkah-langkah
Menurut Polya (1957) terdapat empat langkah dalam pemecahan masalah:
·         Memahami masalah yang ada.
·         Menyusun suatu strategi.
·         Melakukan strategi yang telah dipilih.
·         Melihat kembali penyelesain yang telah dilakukan. Selanjutnya, kalau perlu menyusun suatu strategi baru yang lebih baik atau menuliskan pemecahan dengan lebih baik.
Menurut John Dewey yang dikutip oleh Firdaus menjelaskan 6 langkah metode pemecahan masalah (problem solving), yaitu:
·         merumuskan masalah, yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan.
·         Menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.
·         merumuskan hipotesis, yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
·         mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
·         pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.
·         merumuskan rekomendasi pemecahan masalah, yaitu langkah siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.
c)          Implementasi dalam contoh
      Pak  Rudi  memelihara  beberapa  ekor  ayam.  Setelah  satu  tahun,  jumlah ayamnya  bertambah 250 ekor. Untuk memudahkan pengawasan,  ia akan menjual sebanyak 28% dari ayamnya. Ternyata sisa ayamnya sekarang masih 68 ekor lebih banyak dari jumlah ayamnya semula. Berapa ekor ayam yang dimiliki Pak Rudi pada awalnya?
      Jawab
·         Memahami masalah
Pada  langkah  ini,  para  pemecah  masalah  (siswa  atau  guru)  harus  dapat menentukan dengan jeli apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan.
Dalam hal ini yang diketahui adalah pertambahan ayam selama 1 tahun = 250 ekor. Dijual 28% jumlah ayam selama 1 tahun, setelah dijual sisanya = 68 ekor lebih banyak dari semula. Yang ditanyakan adalah jumlah ayam mula-mula.
·         Menyusun Strategi
Pada  langkah  ini,  para  pemecah  masalah  (siswa  atau  guru)  harus  dapat mengaitkan  masalah yang ada menjadi masalah matematika.
Misal jumlah ayam mula-mula = X
Jumlah ayam selama 1 tahun = 250 + X
Sisa ayam 68 + X
Penjualan = 28/100 (250 + X)
Melakukan strategi yang telah dipilih.
Ayam 1 tahun – penjualan = sisa ayam
(250 + X ) -  28/100 (250 + X) = 68 + X                      (semua di kali 100)
(25000 + 100X ) - 28 (250 + X ) = 6800 +100 X
25000 + 100X – 7000 – 28 X = 6800 +100 X
18000 + 72 X = 6800 + 100 X
18000- 6800 = 100 X – 72 X
11200 = 28 X
400 = X
Jadi ayam mula-mula ada 400 ekor.
·         Melihat kembali penyelesain yang telah dilakukan. Selanjutnya, kalau perlu menyusun suatu strategi baru yang lebih baik atau menuliskan pemecahan dengan lebih baik.
d)         Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan pembelajaran problem solving antara lain sebagai berikut.
·   Mendidik siswa untuk berpikir secara sistematis.
·   Mampu mencari berbagai jalan keluar dari suatu kesulitan yang dihadapi.
·   Belajar menganalisis suatu masalah dari berbagai aspek.
·   Mendidik siswa percaya diri sendiri.
Kelemahan pembelajaran problem solving antara lain sebagai berikut.
·   Memerlukan waktu yang cukup banyak.
·   Kalau di dalam kelompok itu kemampuan anggotanya heterogen, maka siswa yang pandai akan mendominasi dalam diskusi sedang siswa yang kurang pandai menjadi pasif sebagai pendengar saja.
2.      CTL (Contextual Teaching and Learning)
a)          Pengertian CTL
CTL ( CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING ) adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk membantu siswa memahami makna yang ada pada bahan ajar yang mereka pelajari dengan menghubungkan pelajaran dalam kontek kehidupan sehari-harinya dengan kontek kehidupan pribadi, sosial dan cultural.
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan pengalaman dan kenyataan yang dialami siswa di dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan akan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah, bukan transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Kehidupan bermasyarakat menjadi ladang untuk menggali pengetahuan dan apa yang dipelajari, dengan penekanan pada penyelesaian masalah yang bersifat sosial (Joyce, Bruce R & Weil Marsha, 1996).
Pembelajaran seperti ini adalah suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/konteks lainnya.

b)       Tujuh Komponen CTL
Konstruktivisme
         Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal
         Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan
Inquiry (Menemukan)
•     Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman
•     Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
Questioning (Bertanya)
         Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa
         Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry
Learning Community (Masyarakat Belajar)
         Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar
          Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri
         Tukar pengalaman
         Berbagi ide
Modeling (Pemodelan)
         Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar
         Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya
Reflection (Refleksi)
•    Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari
•    Mencatat apa yang telah dipelajari
•    Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok
Authentic Assessment (Penilaian Yang Sebenarnya)
         Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa
          Penilaian produk (kinerja)
         Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual

c)          Teori yang Melandasi CTL
·        Knowledge-Based Constructivism, menekankan kepada pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar.
·        Effort-Based Learning/Incremental Theory of Intellegence, Bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar akan memotivasi seseorang untuk terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan komitmen untuk belajar.
·        Socialization; yang menekankan bahwa belajar merupakan proses sosial yang menentukan tujuan belajar, oleh karenanya, faktor sosial dan budaya perlu diperhatikan selama perencanaan pengajaran.
·        Situated Learning; pengetahuan dan pembelajaran harus dikondisikan dalam fisik tertentu dan konteks sosial (masyarakat, rumah, dsb) dalam mencapai tujuan belajar.
·        Distributed Learning; manusia merupakan bagian terintegrasi dari proses pembelajaran, oleh karenanya harus berbagi pengetahuan dan tugas-tugas
d)         Karakteristik Pembelajaran Berbasis CTL
         Kerjasama
         Saling menunjang
         Menyenangkan
         Tidak membosankan
         Belajar dengan bergairah
         Pembelajaran terintegrasi
         Menggunakan berbagai sumber
         Siswa aktif
         Sharing dengan teman
         Siswa kritis, guru kreatif
         Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dll
         Laporan kepada orang tua bukan hanya raport, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dll.

Menurut  Hadi  (2000),  langkah  pengajaran   matematika  dengan  pendekatan kontekstual dan realistik adalah:
1.      Pendahuluan
a.       Memulai pelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang 'real' bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat dalam pelajaran secara bermakna.
b.      Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut.
2.      Pengembangan
a.       Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan atau masalah yang diajukan.
b.      Pengajaran   berlangsun secara   interaktif Siswa   menjelaska dan memberikan  alasan  terhadap  jawaban  yang  diberikannya,  memahami jawaban  temannya  (siswa  lain),  setuju  terhadap  jawaban  temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain.
3.      Penutup/Penerapan
a.       Melakukan refleksi  terhadap  setiap  langkah  yang ditempuh  atau  terhadap hasil pelajaran.
b.      Berikut ini alternatif pembelajaran untuk topik menentukan suku ke-n barisan aritmetika.
e)     Contoh Permasalahan
Pendahuluan
Memulai  pelajaran  dengan  mengajukan  masalah  (soal)  berikut  sebagai alternatif
a.       Pada 1 Januari 2009, Anto siswa SMP Fajar, menabung sebesar Rp1.000.000,00. Setelah itu, setiap tanggal 1 bulan berikutnya ia menabung sebesar Rp100.000,00.
1)      Tentukan besar tabungan Anto pada tanggal 2 pada setiap bulan berikutnya.
2)      Tentukan besar tabungan Anto setelah ia menabung 21 kali.
3)      Tentukan besar tabungan Anto setelah ia menabung 101 kali.
4)      Tentukan besar tabungan Anto setelah ia menabung n kali.
b.      Pada 1 Januari 2009, Anto siswa SMP Fajar, menabung sebesar a rupiah. Setelah itu, setiap tanggal 1 bulan berikutnya ia menabung sebesar b rupiah.
1)  Tentukan besar tabungan Anto pada tanggal 2 pada setiap bulan berikutnya.
2)  Tentukan besar tabungan Anto setelah ia menabung 21 kali.
3)  Tentukan besar tabungan Anto setelah ia menabung 101 kali.
4)  Tentukan besar tabungan Anto setelah ia menabung n kali.
Soal/masalah di atas diharapkan merupakan soal yang 'real' bagi siswa dalam arti sesuai  dengan pengalaman dan tingkat pengetahuan mereka, sehingga siswa  segera  terlibat  dalam  pelajaran  secara  bermakna.  Di  samping  itu, permasalahan  yang diberikan  tentu  sudah  diarahkan  sesuai  dengan  tujuan yang ingin dicapai.
Pengembangan
a.       Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal  terhadap  persoalan  atau  masalah  yang  diajukan.  Salah  satu alternatif yang diharapkan.
             
b.    Pengajaran berlangsung secara interaktif. Siswa menjelaskan dan memberikan  alasan  terhadap  jawaban  yang  diberikannya,  memahami jawaban  temannya  (siswa  lain),  setuju  terhadap  jawaban  temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain.
Penutup/Penerapan
Melakukan refleksi  terhadap  setiap  langkah  yang ditempuh  atau  terhadap hasil pelajaran.



f. Implementasi CTL
Sesuai dengan faktor kebutuhan individual siswa, maka untuk dapat mengimplementasikan pembelajaran dan pengajaran kontekstual guru seharusnya:
a.       Merencanakan pembelajaran sesuai dengan perkem-bangan mental (developmentally appropriate) siswa.
b.      Membentuk group belajar yang saling tergantung (interdependent learning groups).
c.       Mempertimbangan keragaman siswa (disversity of students).
d.      Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri (self-regulated learning) dengan 3 karakteristik umumnya (kesadaran berpikir, penggunaan strategi dan motivasi berkelanjutan).
e.       Memperhatikan multi-intelegensi (multiple intelli-gences) siswa. 
f.       Menggunakan teknik bertanya  (quesioning) yang meningkatkan pembelajaran siswa, perkembangan pemecahan masalah dan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
g.      Mengembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna jika ia diberi kesempatan untuk bekerja, menemukan, dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru (contructivism).
h.      Memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) agar siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui penemuannya sendiri (bukan hasil mengingat sejumlah fakta).
i.        Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui pengajuan pertanyaan (quesioning).
j.        Menciptakan masyarakat belajar (learning community) dengan membangun kerjasama antar siswa.
k.      Memodelkan (modelling) sesuatu agar siswa dapat menirunya untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru.
l.        Mengarahkan siswa untuk merefleksikan tentang apa yang sudah dipelajari.
m.    Menerapkan penilaian autentik (authentic assessment).


Referensi
Joyce, Bruce. R & Weil, Marsha. 1996. Model of Teaching 5th ed. USA: Allyn&Bacon. BSNP. Sosialisasi KTSP
Abdul Rahman Saleh. CTL/tujuh-komponen-ctl.html. Diakses pada tanggal 15 Agustus 2011
http://muhfida.com/2011/05/Tahapan-tahapan problem Solving-model pembelajaran-bse download.htm diakses tanggal 15 Oktober 2011
Polya, George. 1957. How to solve it. Garden City, NY: Doubleday.